Sabtu, 25 Agustus 2012

Kuyang

Percaya atau tidak, ini pengalaman seorang calon ibu diuber-uber kuyang, yang dipercaya masyarakat Tanjung Redep, Kalimantan Timur, sebagai makhluk siluman pemangsa janin dalam kandungan.

Setelah menikah di Jakarta bulan Juni 1994, saya mengikuti suami, kebetulan anggota Polri yang bertugas di Kota Tanjung Redep, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kami berada di ko
ta itu sekitar tiga tahun, dari Juni 1994 – Juni 1996.

Kalau di Bali orang mengenal leak sebagai “hantu siluman” yang dapat membuat orang sakit atau meninggal, maka di daerah Berau, pedalaman Kalimantan Timur, konon ada dukun yang dapat mengubah wujud menjadi binatang, entah kucing atau burung.

Fenomena ini disebut kuyang. Leak dan kuyang memang berbeda. Wujud asli leak konon bisa seorang laki-laki atau perempuan, sedangkan kuyang berwujud asli perempuan saja.
Juga leak Bali sudah canggih-canggih; mereka dapat bersalin rupa menjadi “siluman” motor, mobil, bahkan pesawat. Tapi kuyang hanya dapat berwujud “siluman” burung atau kucing. Sasaran korban leak mulai dari anak kecil sampai orang jompo, sementara kuyang terbatas pada ibu hamil dan bayinya.

Jangan mau diusap perutnya

Maka ketika saya hamil pada awal September 1994, tetangga saya, Bu Sukamto yang asli penduduk Berau, menasihati agar berhati-hati bila bertemu dengan kuyang. Biasanya ia berjalan-jalan pada siang hari untuk mencari mangsa sambil berpura-pura menjajakan barang dagangan.

Ciri-ciri kuyang yang beroperasi di Asrama Polres kami, katanya, seorang wanita berusia sekitar 50-an dan biasanya memakai selendang. Selendang itu untuk menutupi tanda seperti bekas operasi di lehernya. Konon, pada malam hari kepalanya akan memisah dari tubuhnya. Kepala itu akan berubah wujud menjadi burung malam atau kucing.

Dalam memangsa korban, ia tidak pandang bulu dengan usia janin dalam kandungan. Ada beberapa teman yang usia kandungannya baru empat atau lima bulan, kandungannya hilang dimangsa kuyang. Ceritanya, mereka ibu muda seperti saya, dan sebagai pendatang baru di Berau tidak mengetahui cerita tentang sang pemangsa itu.

Pada siang hari, ketika bertemu dengan wanita berselendang itu, perut teman saya diusap-usapnya. Dengan ramah ia bertanya, sudah berapa usia kandungannya. Tanpa curiga, teman saya menjawab, kandungannya baru berusia empat bulan.

Keesokan harinya, ketika bangun tidur, teman saya kaget waktu mengetahui perutnya kembali ke bentuk semula. Ketika memeriksakan diri ke dokter, bayinya sudah benar-benar lenyap tanpa bekas! Hal serupa dialami oleh teman saya yang usia kandungannya lima bulan.

Menurut ibu Sukamto, apabila bertemu wanita itu, dan dia mengusap perut wanita hamil, maka si wanita hamil harus balas mengusap perut si kuyang kembali. Itulah cara melawan kuyang.

Untunglah, selama kehamilan, saya tidak pernah bertemu langsung dengannya, karena ketika ia berkunjung, suami saya selalu berada di rumah. Namun, Bu Sukamto mengingatkan agar saya tetap waspada, sebab kuyang terkenal pantang menyerah sebelum mendapatkan mangsa incarannya. Jalan terakhir yang akan ditempuh adalah saat sang ibu akan melahirkan. Saat itu, ia akan berubah wujud menjadi seekor burung malam atau kucing.

Konon, untuk membedakan kucing biasa dengan kucing jadi-jadian adalah saat ia mendarat di atap rumah. Suara mendaratnya seperti bunyi mobil jatuh, sangat keras dan jelas terdengar. Tentu saja itu akan terdengar kalau kami masih terjaga, dan tidak terkena ajian sirep yang menyebabkan kita tertidur.

Dua hari menjelang melahirkan, tepatnya pada 7 Mei 1995, saya tengah berbincang di ruang makan dengan ibu saya yang baru datang. Hari itu suami saya sudah terlelap tidur, padahal baru pukul 19.30. Hal itu belum pernah dilakukannya. Aneh, tampaknya, dia terkena sirep. Menjelang pukul 21.00, saat saya pindah duduk, saya mendengar bunyi benda berat jatuh tepat di atap ruang duduk.

Saya tahu kalau itu siluman kuyang. Tapi, saya tidak tahu apa wujudnya, burung atau kucing. Sepuluh detik kemudian yang muncul di kursi yang saya duduki sebelumnya adalah seekor kucing. Dengan matanya yang lapar, ia memandang saya. “Kucing! Kucing!” saya berteriak sekeras-kerasnya sambil cepat-cepat lari keluar.

Suami saya bangun mendengar teriakan saya dan berdiri dengan sempoyongan. Tepat di pintu kamar, ia bertabrakan dengan kucing yang sedang bingung. Suami saya jatuh terjengkang ditabrak kucing siluman.

Para tetangga berdatangan, lalu berteriak dari luar. Ada yang bilang supaya kucing itu diusir saja, ada pula yang mengatakan agar dibunuh saja. Akhirnya, suami saya hanya mengusirnya ke luar lewat pintu depan. Segera kucing itu lenyap tanpa bekas! Selanjutnya, suami dan ibu saya terus berjaga sampai pagi.

Esok harinya, kami memutuskan untuk langsung menginap di rumah sakit supaya aman dari incaran kuyang. Dugaan kami meleset. Menjelang pukul 02.00 ketika sedang jalan-jalan di koridor rumah sakit, saya dan suami melihat wanita tua yang dikenalnya datang dari jauh. Saya disuruh cepat-cepat masuk kamar. Jantung saya berdebar cepat. Tidak pernah saya merasa setakut itu.

Setelah suami saya kembali ke kamar, ia bercerita, si ibu tua itu ngotot mau masuk ke bangsal bersalin. Ketika ditanya keperluannya, dia mengaku sebagai petugas memasak di dapur rumah sakit. Suami saya mengatakan, ia salah arah. Letak dapur bukan di situ tetapi jauh di depan. Dengan setengah memaksa, suami saya menyuruhnya pergi.

Akhirnya, tepat pada 9 Mei 1995 pukul 10.21, saya melahirkan putra pertama dengan selamat. Kami lega. Berakhir sudah “pertarungan” kami mempertahankan bayi dari incaran kuyang.

Akhir tahun 1995, saya hamil kembali. Saya ditinggal oleh suami yang bertugas mengamankan pembangunan pabrik kertas raksasa PT Kiani Kertas di Desa Mangkajang, enam jam perjalanan dengan mobil dari Tanjung Redeb. Saat itu, saya tidak bisa menghindar dari pertemuan dengan siluman kuyang pada siang hari. Untungnya, dia tidak memegang perut saya. Saya pun cepat-cepat menghindar jangan sampai mengobrol dengannya.

Menurut penduduk setempat, orang yang bertatapan mata dengan kuyang akan mendapat kesulitan saat melahirkan. Seorang guru teman saya yang putra asli Dayak, sempat bertemu dan bertatap mata dengan kuyang pada siang hari. Aneh, saat melahirkan ia beserta seisi rumahnya tertidur pulas. Dia hanya bermimpi melahirkan. Tapi ketika ia bangun keesokan harinya, bayi dalam perutnya hilang tanpa bekas! Seisi rumah pun geger!

Saat itu saya hanya berdoa dalam hati supaya kelak dapat melahirkan di luar Pulau Kalimantan. Saya juga percaya, Tuhan tetap lebih berkuasa dari makhluk apa pun di dunia ini. Rupanya, keberuntungan masih berpihak kepada saya. Bulan April 1996, permintaan pindah suami saya diterima. Akhir Juni 1996 kami langsung pindah ke Bali. Sepuluh hari di Bali, saya melahirkan dengan melalui operasi caesar pada 11 Juli 1996.

Saya bersyukur dikarunia sepasang anak, putra dan putri. Namun, yang lebih penting, mereka selamat dari incaran kuyang. Tuhan Mahakuasa dan Mahapengasih.

Kuntilanak di kuburan cina

Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih demikian kata pepetah klasik yang kurasakan sangat pas sekali dengan bisnisku yang belakangan ini hancur lebur. Maksud hati melebarkan usaha dengan membuka bengkel karoseri, bisnis jual beli mobil bekasku yang selama ini lancar kini hancur berantakan. Padahal segala jenis uasaha yang aku lakukan itu telah aku
usahakan secara intensif. Mulai dari hal yang sifatnya managerial hingga hal yang sifatnya spiritual. Mitra bisnis yang selama ini lengket denganku kini pergi meninggalkan ku. Bahkan mereka tak peduli dimana aku tinggal setelah barang-barangku disita.

Singkat cerita Karena masih ada sisa sedikit uang, aku beli rumah murah didekat pemakaman tionghoa didaerah pinggiran sungai cisadane. Jalan Imam bonjol kota Tangerang. Jujur saja sebenarnya aku takut tinggal didaerah pekuburan itu. Tidak hanya aku saja istri dan anakku pun sempat protes kepadaku. Tapi setelah aku yakinkan mereka akhirnya merekapun mengerti.

Sejak kami pindah kerumah berukuran 180 meter itu istri dan ankku tidak ada yang pernah keluar malam. Mereka hanya dirumah mengurung diri dan menonton TV. Jalan menuju rumahku adalah jalan setapak yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Saat melewati jalan kecil itu kamipun harus berjalan diantara makam-makam orang cina disisi kiri dan kanan nya. Selain kuburan china, disekitar rumahku juga terdapat kuburan yang tidak terawat, dengan rerumputan setinggi leher kuda, selain ilalang pemakaman itu ditumbuhi pohon-pohon jarak, akasia, mahoni dan angsana.

Pada hari raya imlek kami sekeluarga pergi kerumah orangtuaku dengan meminjam mobil dari adikku tanjimhan, rumah orangtua ku terletak didaerah cipaganti bandung utara. Semua keluarga kami berkumpul malam itu, rencananya aku mau menginap satu minggu disana namun karena mendapat perlakuan yang buruk dari kakakku yang tidak senang dengan istri ku aku buru-buru pulang setelah mendapat bantuan dana.Aku berangkat dari bandung tepat pada pukul 12 siang dan sampai dikota tangerang pada pukul 18.00 sore. Masuk kepemakaman sekitar pukul 18.15 saat adzan magrib terdengar. Karena mobil tidak bisa masuk kelokasi rumah maka kendaraan itu sengaja kuparkir didepan jalan masuk makam. Sementara kami harus berjalan sekitar 250 meter. Sore itu udara cukup dingin dipemakaman yang biasa disebut bong cina atau kuburan cina. Selain baru turun hujan yang sangat lebat angina kencang juga berhembus dari selatan hingga menggoyang-goyang seluruh pepohonan yang tumbuh disana. Ditengah jalan yang becek kami berempat dengan hati-hati melangkah, tapak kaki kami harus tepat memilih jalan agar tidak terjatuh.

Tiba-tiba kami mencium bebauan yang sangat wangi muncul dari sebuah makam yang bertuliskan Tio Ciu berwarna hitam. Dinisan makam yang menebarkan wewangian itu bertuliskan Ten Nie Wo lahir tanggal 13 desember 1956 wafat tanggal 3 januari 1981. kami memperhatikan betul nisan berwarna kusam dengan bercak-bercak hitam karena ditumbuhi lumut itu. Sementara bau mawar bercampur dengan bau hio merah menyengat menguar dari makam gadis berumur 24 tahun itu.

Papi, bau makam ini sangat tajam, papi juga mencium bau aneh itu kan? Tanya gie istriku, yang dijawab 2 anakku. Rupanay mereka berdua juga mencium bau yang agak aneh. Disini tidak ada manusia lain bagaimana ada bebauan sekeras ini desis gie sambil menatap tajam ke makam tio. Sebelum langkah kami melaju meninggalkan makam tio tiba-tiba ada suara cekikikan dari makam itu bersama dengan suara cekikikan itu muncul asap tipis berwarna putih mengudara dari dalam makam.

Makam itu mengeluarkan asap. Dua anakkupun merapat pada ibu mereka dan bertanya tentang asap itu. Aku memerintahkan gie dan kedua anakku untuk buru-buru jalan. Pikirku ada sesuatu yang tidak beres dimakam itu. Sebab menurut cerita yang aku dengar jika ada hantu mau keluar kuburan berhantu terlebih dahulu mengeluarkan asap. Benar saja, dalam hitungan detik setelah asap itu mengepul, tiba-tiba asap itu berubah menjadi sosok manusia. Sementara anak dan istri ku melaju kedepan aku mengawasi perubahan wujud itu. Puji tuhan pelan tapi pasti sosok manusia itu nampak seperti seorang perempuan bergaun putih panjang dengan rambut panjang tebal menutupi mukanya.

Hantu... Hantu... Kuntilanak! pekikku diluar kendali kesadaran. Karena pekik kerasku itu dua anakku mengkeret memelukku karena rasa takut yang terasa sangat. Kami segera berlalu tapi langkah kami terasa tersendat seakan ada tangan-tangan lain yang mencengkeram kaki kami. Sementara makhluk aneh itu diam saja diatas makamnya. Kuntilanak itu terlihat sangat menyeramkan. Sambil terus menerus tertawa cekikikan yang merindingkan bulu kuduk. Tuhan lindungi kami dari gangguan kuntilanak ini, lindungi kami dari gangguan makhluk alam lain ini. Doaku sambil tertatih-tatih menggandeng istri dan anakku melaju menuju rumah. Karena rasa takut yang teramat sangat aku tidak lagi mempedulikan sosok wanita kuntilanak itu aku terus saja berjalan menuju rumah. Sampai didepan rumah untuk terakhir kali aku menengok kearah makam tio itu namun sosok makhluk kuntilanak itu telah hilang, tidak ada di atas makam. Kami buru-buru masuk rumah dan mengunci pintu, semua lampu kami nyalakan dan TV pun kami hidupkan untuk menetralisir rasa takut yang kala itu bergolak hebat. Disekitar rumah kami memang ada beberapa rumah tapi lebih banyak ditinggalkan oleh penghuninya. Setelah beberapa saat kami bristirahat dan menenangkan keadaan tiba-tiba terdengar suara pintu dapur diketuk-ketuk. Ketukan itu sangat konstan.

Siapa itu? Tanyaku, agak keras.

Sebelum Tanyaku dijawab, tiba-tiba terdengar suara cekikikan perempuan kuntilanak dari pintu dapur, bau wangi menyengatpun kembali tercium, nah benarkan hantu kuntilanak itu datang kerumah!” Batinku. Karena takut, jantungku berdebar hebat
Dan seluruh sendi-sendi tulangku terasa kaku, malam itu rumah kami terasa menjadi neraka jahanam kami merasa ketakutan bersama-sama. Hari yang sangat nahas dan membuat kehidupan kontan menjadi sesak. Suar-suara cekikikan itu muncul dari arah mana saja, bau wangi yang sangat menyengat menyelimuti rumah kami. Aku merasa kuntilanak yang menggangu kami tidak hanya satu karena suara cekikikan itu sangat ramai, ketukan pintupun semakin lama semakin keras tidak hanya pintu dapur kini pintu depan pun juga diketuk-ketuk seolah minta dibukakan pintu, semakin lama suara cekikikan tu semakin mendekat.. dan kami hanya bisa diam ketakutan. Setelah lama dalam terror ketakutan pelan-pelan suara itu pergi menjauh, menjauh, menjauh dan akhirnya suara kuntilanak itu menghilang. Kamipun sedikit demi sedikit merasa lega, kamipun beristirahat dan berharap hantu kuntilanak itu tidak kembali.

Esoknya aku ceritakan peristiwa yang aku alami kepada penjaga makam, Pak Rusli 56 tahun. Dia menceritakan bahwa hantu itu memang sering muncul dan bahkan dia sering nampak. Pak rusli juga menceritakan kalau Ten Nie Wotio yang berada dimakam itu mati karena bunuh diri, Tio meninggal setelah menggantung diri di pohon angsana dibelakang rumahnya dalam keadaan hamil tua dikampung egrek 500 meter dari rumah saya. Tio putus asa karena selain ayahnya meninggal karena serangan jantung kekasihnya William Lee meninggalkannya dan pergi ke korea selatan.

Sekarang anda sudah tau dan sudah melihat sendiri, dan saya yakin anda tau apa yang harus dilakukan kedepan. Hantu kuntilanak tio setiap bulan sekali muncul dengan perwujudan seorang wanita bergaun putih panjang dengan rambut panjang tebal menutupi wajah. Kisah nyata tersebut merupakan cerita serem yang gak bakal aku lupakan seumur hidup.

Penampakan di kantor

hei gw fredy, gw bekerja di bank salahsatu di indonesia, kantornya yaitu ga jauh dari setia budi jak-sel, gw mo cerita pengalaman gw pas lembur, saat itu gw pulang jam 10 malem maklum kl akhir bulan tuh kerjaan menumpuk sadis, sebelum gw pulang biasanya gw senderan dulu di kursi ya itung2 ngelempengin punggung, pas gw merem bentar tiba2 ada yang nepuk bahu gw, spontan gw kaget tapi ga ada siapa2, ga pake pikir panjang gw langsung pulang, kebetulan ruangan gw tuh lantai 8 beuuh.. ga kebayang kan gmn, gw pas di lift lihat di bayangan pintu lift ada orang di sebelah gw, and tadi perasaan kan gw sendirian, pas sampai lantai basement gw ketemu ama cleaning servis, mukanya agak pucet gt, nih percakapan gw

F: lo lom balik?
C: belum pak masih banyak kerjaan
F: perasaan CS ga gt gt amat deh kl lembur
C: saya sift malam pak
F: owh baru tw gw kl ada sift malam sekarang (cz gw ga aware ma org jd gw ga tw)
 cuma gw inget di tag name nya namanya ikhsan

lantas pamit2an ma tuh CS gw langsung ke basement ambil mobil truz cabut
 pagi hari gw cerita ama tmn ttg sift malem dan tmn gw heran sejak kapan ada sift malem? and nama ikhsan itu orang nya uda meninggal 3 bulan yang lalu, itu meninggalnya pas gw cuti dan tmn2 ga ngasi tw cz gw tu org na masa bodo jd nya malahan ga di kasi tw sekalian. duh... maaf kalau ga seram..

Kirim cerita

Silahkan mengirimkan cerita Horor - Cinta - Misteri
ketik pada kolom komentar, setelah di tinjau dan sekiranya memenuhi syarat akan kami posting.
Kirim Cerita